Disagreement: attack or not?

Dua hari yang lalu melihat di Twitter ada yang nge-tweet begini: heal, so you don’t see disagreement as an attack. Gw jadi teringat akan diri sendiri, karena itulah salah satu masalah gw. Ketika ada yang nggak setuju dengan pendapat gw, gw merasa diserang. Lalu gw berusaha membedahnya dengan kacamata penyintas trauma. Gw mengingat-ingat bagaimana sih sebenarnya gw dididik dan diperlakukan dari kecil dalam menghadapi perbedaan pendapat. Ternyata memang gw dibesarkan dengan keadaan tidak sehat. Setiap ada perbedaan pendapat, bukan pendapat yang dicounter tapi langsung menyerang ke kepribadian gw. Nggak jarang ketika berselisih pendapat, yang keluar dari mulut orang tua adalah: (1) kamu anak nakal; (2)kamu orang liberal; (3) kamu banyak melawan, dasar anak durhaka. Gw jadi nggak pernah belajar cara menerima argumen atau bantahan dengan baik.

Tweet yang gw kutip tadi ada benarnya. Gw harus sembuh supaya ketika beradu pendapat dengan orang lain badan gw nggak membeku merasa diri gw sedang diserang. Supaya gw nggak masuk ke fasa bertahan hidup karena merasa terancam. Ada beberapa reaksi sebenarnya ketika kita merasa terancam begitu. Antara menyerang balik atau jadi membeku. Dan kalau kita tidak punya kesadaran diri, kedua reaksi itu akan hadir secara otomatis. Nggak ada yang lebih baik dari salah satunya. Membeku membuat kita nggak bisa merespon dengan baik dan menjatuhkan kepercayaan diri. Bersikap reaktif juga tidak baik karena proses diskusi jadi berjalan tidak lancar dan malah melebar kemana-mana.

Cuma gw jadi berpikir juga, perbedaan pendapat apa yang sehat? Apalagi kalau lihat di internet sekarang, bukannya pendapatnya yang dibantah, tapi langsung mengejek ke si pemberi pendapat. Misalnya bukan “pendapatnya goblok”, tapi “dasar kamu goblok.” Bukankah itu menyerang pribadi si pemberi pendapat? (oh ya, I admit I have done this too without realizing I did wrong! Ugh..pardon me)

Memang dalam kerangka pengalaman traumatik atau trauma kompleks (terutama), perbedaan pendapat jenis apapun, mau pendapatnya yang dibantah ataupun pribadi yang diserang, semua jadi dianggap sama. Langsung dianggap ekstrim bahwa pribadinya yang diserang. Karena dalam proses perkembangan kognitifnya, yang berlangsung dari masa kanak-kanak hingga remaja, setiap ada perbedaan pendapat, pribadinya yang diserang. Jadi itu yang tertempel. Seolah-olah dia tidak berharga, seolah-olah dia adalah kesalahan penciptaan apabila berbeda pendapat. Makanya proses pembongkaran trauma dan mengembalikan fondasi berpikir yang benar itu penting dalam proses terapi trauma kompleks.

Barangkali yang paling penting ketika ter-trigger saat pendapat kita (yang mempunyai trauma atau trauma kompleks) dibantah adalah menarik diri sejenak dan mengingat-ingat, awal mula munculnya perasaan diserang ini dari mana dan kapan? Akar masalahnya apa ya? Karena menarik diri dan berusaha menganalisis pikiran kita itu adalah bagian dari proses penyembuhan juga. Setidaknya ada refleksi diri yang dilakukan sebelum kita memberikan reaksi yang reaktif.

Perjalanan untuk sembuh dari trauma atau trauma kompleks memang tidak mudah. Layaknya lapisan kulit bawang, ketika kita mengira sumber trigger sudah teratasi, eh ada saja lapisan yang kemudian terkuak. Butuh kesabaran dan ketabahan memang dalam menjalani proses penyembuhan ini. Selain itu butuh kesadaran diri yang tinggi untuk menganalisis setiap perasaan dan pikiran yang muncul. Kita sudah terbiasa hidup dalam kondisi survival mode begitu lama, sekarang saatnya berjalan pelan dan mengamati semua dengan seksama.

Off from Medication

It’s been almost 2 months I am off from the depression medication. At first, I decided not to continue the medication due to COVID-19 situation. I was reluctant to go to the hospital in the heat of the virus. I also have been thinking to take off from the medicine for a while because it hasn’t shown any help to my mood or motivation. No effect in the past few months. The depressive thoughts lingered on, I was still lack of motivation to do anything, and days were grey as it used to be.

So, due to COVID-19, it was ‘perfect’ time to challenge myself not to take my medication anymore. I didn’t consult with my psychiatrist (and this is bad move, everyone, please don’t follow this), because I was and am reluctant to get rejection from her. The regimen of my medication has been changed several times and none of them really work well after some time. So, once again (I did the same thing a year ago) I decided to stop the medication.

After almost 2 months not taking medication (I can’t count days anymore!), to be honest I don’t feel any change. I mean, no change for better or worse. It’s all just the same. I did feel a little bit better when I meditated regularly (49 days continuously and then I slipped due to some exams I had to take). I know my problem is about self-discipline and this can’t be solved by medication. About the dark thoughts, though… it also cannot be solved by the medication. I am lack of self-compassion and I also need to work on that.

I am glad, though, that I can maintain myself good enough along this time. ‘Good enough’ means I have fallen several times, but it didn’t make me fall down too far. Of course, I have had helped from some people, from an online sister who dragged me back from despair. I can still smile and laugh and enjoy good comedy and romance novels. My head is still a mess and it feels like there’s a huge blob inside, but I can function good enough. Bearable.

I hope I will get better as time goes by and be able to work on myself more. To be more compassionate to myself and to build up self-discipline I need the most.

Tolerance in the family

I am a huge fan of Young Sheldon TV Series, and I’ve re-watched every episodes at least 3 times. Now, what amazes me from Sheldon’s family is how liberal they are despite of Mary’s (Sheldon’s mother) conservatism. Sheldon, even from a young age, has already been an atheist and Mary’s acceptance of his stance is remarkable for such a religious person. Sure, Sheldon was asked to go to church and attend Sunday’s school, but she accepted that he is an atheist. And that kind of acceptance is rarely found in this world, well in my part of world, at least.

Whenever I see Young Sheldon, I keep wondering what if my family (or even most conservative families) can be loose enough to accept the difference in the family, especially regarding the belief system the family member holds up. In another words, tolerance. Is it too difficult to be tolerant to other family member about what s/he believes? If family is about unconditional love, should it matter the position someone takes? Whether it’s about politics, religion/belief, or anything that matters. Wouldn’t it be lovely if there’s deep understanding about individuality in the family setting?

Alas, that I cannot find in real world. Very rare to be found. Very rare, indeed. In certain religious belief, it is very important that each member of the family holds the same belief due to its doctrine that the head of family will be asked for his accountability on the matter. The doctrine is ridiculous, of course. Because it contradicts itself. If God will ask individual’s accountability, of his own deeds, why does it matter so much the deeds of other which we cannot control?

As usual, I digress *sigh*. My point is if we can be tolerant to each other’s belief, if we focus on compassion and love, it would be wonderful, despite the differences we have. Even in family. I mean, children will keep loving their parents and without being asked will take care of them, right (except those who have been given deep trauma from the parents!). I think that’s what unconditional love means. Despite the differences, love will bring family close to each other, without being asked. So why not practice tolerance, love, and compassion? Why most parents don’t give freedom of choice to their children? Why don’t they let the children choose their own way, their own belief system, their own life?

I don’t think I will ever get satisfying answer about this. Not in the place where I live. Not in the community where I am now. I deeply respect those who give freedom to their children and keep loving them with all their heart. They are rare in this world. And as for those who are going to be parents, I humbly request that you consider to give your children the freedom of choice and keep loving them no matter what their choices are.

Nothing as beautiful and as valuable as family whom we can go home to.

Mencari Motivasi dan Ketertarikan

Mungkin yang jadi gerbang kehancuran (omo!) gw adalah kecenderungan gw untuk berpikir hal-hal yang besar saja dan abai terhadap hal-hal kecil. Akibatnya gw nggak bisa atau kesulitan menekuni sesuatu karena begitu gw berpikir gw tidak bisa melakukannya (atau bahkan memproyeksikan kalau akhirnya akan buruk), gw berhenti mencoba. Bahkan gw tidak akan mencoba sama sekali. Ini makin terasa sejak depresi relapse berulang kali.

Sejak depresi relapse berkali-kali (sebenarnya nggak yakin apakah relapsenya berkali-kali atau memang nggak pernah ada fase baikan), banyak hal yang hilang dalam diri gw. Rasa penasaran, percaya diri, motivasi, bahkan sedikit rasa tekun yang gw miliki (terutama kalau sudah tertarik akan sesuatu). Dan ini memperparah kelemahan-kelemahan gw yang sudah ada sebelum ini. To be frankly, sejak relapse terparah tahun 2018 kemarin, rasanya gw belum benar-benar bangkit hingga hari ini.

Gw akhirnya sampai nanya dan minta saran gimana cara punya curiosity dan motivasi lagi melalui Twitter. Beberapa saran yang masuk punya nada yang sama. Intinya adalah kerjain pelan-pelan dan sedikit demi sedikit. Konsisten. Dan pikirkan rasa senang yang diperoleh kalau semuanya selesai, kalau dapat ilmu baru, kalau target tercapai. Ada lagi yang bilang, berpikir itu pada saat perencanaan aja, tapi pas harus melakukan, lakukan saja yang diperlukan.

Saran-saran ini bener banget. Dengan fokus pada hal-hal kecil, dan melakukannya perlahan-lahan, progress itu akan tercapai juga. Gw aja yang terbiasa nggak menghargai proses (barangkali karena waktu kecil selalu yang dilihat adalah hasil dan keberhasilan). Gw juga sampai sekarang nggak tau kenapa gw selalu sibuk memproyeksikan keadaan ke masa depan dan berpikir apa yang bisa terjadi (dengan situasi gw saat ini), instead of just do and just try. Rasanya tiap ada motivasi sedikit, nggak lama kemudian langsung dihempas dengan “alah ngapain, bakalan gagal juga,” atau “alah ngapain, bisa nanti-nanti.”

Tantangan buat gw sekarang ini adalah untuk konsisten dan nggak overdo anything I should do. Maksudnya gimana? Misalnya, gw sekarang lagi berusaha lanjut sekolah dan gw perlu belajar untuk menyiapkan proposal riset. Yang harus gw lakukan adalah konsisten baca 3 artikel jurnal sehari atau 1 bab buku sehari, bukannya maksa baca sebanyak mungkin. Ini aja gw agak kepayahan karena ngantuk lah, mood nggak bagus lah. Kurang bisa ngepush diri sendiri, but I am trying. Setidaknya meski gw tertatih-tatih, gw berusaha untuk tidak menyalahkan diri sendiri dulu. Pelan-pelan.

meskipun tadi rasanya ingin mengakhiri hidup aja karena merasa sangat nggak berguna dan nggak kompeten di profesi yang gw jalani ketika melihat orang-orang lain yang seprofesi dan jauh lebih cerdas dan berdedikasi dalam pekerjaan mereka.

Anyway, karena gw punya waktu cukup lama (syukurlah!) untuk membenahi diri gw sendiri, dan 14 hari kemarin gw rasa sudah cukup lah untuk pause sejenak dalam hidup, gw akan berusaha dan berusaha untuk lebih konsisten mengejar target-target kecil yang gw miliki (meskipun, jujur aja, entah apa target gw, masih blur sampai sekarang…segitu kacaunya depresi menyerang). Terima kasih banyak untuk kenalan-kenalan yang merespon pertanyaan gw di Twitter kemarin itu. Oh ya, ada satu blog post yang bagus juga merangkum gimana caranya tetap termotivasi, terutama dalam belajar. Bisa kalian lihat di : https://dimejamakan.wordpress.com/2020/03/30/not-to-make-the-comment-section-sad-i-just-need-practical-tips/

Segitu dulu post kali ini. Kalau ada yang mau berbagi tips menjaga motivasi dan meningkatkan rasa curiosity/ketertarikan terhadap sesuatu, bisa share juga di kolom komentar ya. Thank you.

Sedikit Catatan Pribadi di Tengah COVID-19

Ini sudah hari ke-14 gw berada dalam kondisi physical distancing (pembatasan fisik) akibat COVID-19. Oh ya, apa itu COVID-19? COVID-19 adalah penyakit yang menyerang saluran pernapasan yang disebabkan virus Corona (Sars-Cov-2). Pertama kali virus ini terdeteksi di China, sekitar bulan Desember 2019, dan eskalasi penyakitnya terjadi secara eksponensial di bulan Januari. Sejak bulan itu juga penyakit ini menyebar ke seluruh dunia. Dan per bulan Februari sebenarnya WHO sudah meminta masyarakat dunia untuk menjaga jarak satu sama lain untuk mempersempit penyebaran virus ini.

Indonesia terlambat mengambil langkah. Keputusan pembatasan jarak fisik (sebelumnya istilahnya pembatasan sosial) baru diberlakukan di bulan Maret, terlambat dua bulan. Sebelumnya pemerintah begitu jumawa tidak ada, bahkan tidak akan ada sebaran virus ini di Indonesia. Eh ternyata di bulan Maret, pecah telor. Pasien COVID-19 mulai bermunculan, bahkan mulai ada kematian (virus ini sebenarnya tidak mematikan, kecuali pada kelompok rentan, yaitu lansia dan yang memiliki penyakit kronik). Barulah saat itu muncul keputusan pembatasan jarak fisik.

Tempat kerja gw melaksanakan keputusan itu, dan ini sudah hari ke-14 gw di rumah. Tadinya hanya 14 hari saja masanya, eh ternyata kasusnya makin bertambah parah, jadi akhirnya pembatasan jarak fisik ini diberlakukan sampai bulan Mei. Gw ingin menceritakan sedikit apa yang gw rasakan selama 14 hari terakhir ini. Sejak depresi relapse berulang kali dalam 4 tahun terakhir, gw selalu berkeinginan agar hidup ini ada tombol “Pause”. Dan kemarin-kemarin rasanya nggak pernah muncul kesempatan itu, sementara gw udah ingin menjerit kepayahan dalam melaksanakan hidup. Ndilalah, begini cara semesta memberikan tombol Pause yang otomatis tertekan ke dalam hidup gw.

Dalam 14 hari terakhir, gw merasakan ketenangan karena hidup terasa lebih santai buat gw (yes, gw adalah sebagian orang yang memiliki privilege untuk merasakan demikian). Gw bersyukur karena gw merasa lebih tenang. Gw membutuhkan ini. Gw mulai lagi meditasi dan mengolah emosi-emosi yang tersembunyi. Ada rasa bersalah besar yang menggerogoti dan akhirnya gw proses. Gw baca ulang novel-novel dengan tenang (meskipun kadang ada pikiran “atuhlah kenapa nggak baca buku yang lebih serius aja”). Gw belajar memasak dan itu ternyata menenangkan gw.

Namun, beberapa hari terakhir gw mulai gelisah lagi. Kenapa? Karena ternyata meskipun gw seorang introvert yang bener-bener memilih berada di rumah ketimbang di tempat ramai, gw butuh juga berkumpul dengan kolega dan teman-teman. Gw butuh berinteraksi dengan mereka, melihat raut wajah, bercanda, atau hanya sekadar menanyakan kabar secara tatap muka. Gw juga mulai kepikiran soal betapa datarnya hidup ini, betapa gw telah kehilangan rasa penasaran dan motivasi dalam hidup. Tujuan hidup gw apa? Gw nggak tahu.

Masih ada waktu selama pembatasan jarak ini untuk gw menemukan diri gw sendiri, melihat ke dalam. Gw dengan privilege yang gw miliki harus menggunakannya dengan sebaik mungkin. Entah itu untuk beristirahat dan tenang, atau untuk mencari tahu apa tujuan gw dan mulai mengusahakan agar tujuan itu tercapai. Gw butuh menemukan diri gw lagi. Gw butuh bergerak lagi. Gw butuh penasaran lagi dan merasa tertantang untuk mengerjakan sesuatu lagi.

Semoga dengan Pause yang diberikan semesta ini, gw mampu melakukannya.