Syukurlah

Tiga tahun yang lalu (time flies!) gw menulis “Tak ada rumah” sebagai bentuk kekalutan hati (dan rupanya itu bentuk codepedency). Tak lama kemudian rasanya gw pernah menulis (tapi entah di mana) tentang benteng gw yang hancur lebur. Sekarang, setelah berpikir dengan lebih jerning (tentunya terima kasih atas bantuan obat dan psikoterapi), gw melihat kembali ke masa-masa 5 tahun ke belakang dan gw bersyukur benteng gw hancur lebur, dan gw bebas berkeliaran ke mana saja.

Gw diingatkan kembali lewat tulisan “Tak ada rumah” bahwa gw adalah petualang. Gw juga diingatkan bahwa gw punya rumah, yaitu gw sendiri. Tempat yang nyaman dan lapang, dimana gw bisa menari dengan riang. Gw diingatkan kalau gw petualang, tak ada benteng yang membatasi. Mudah-mudahan gw semakin tegas melangkahkan kaki. Perlahan tapi pasti.

Syukurlah gw akhirnya sampai di sini. Bertahan dan membaik. Bertahan dan berproses dengan segala aral melintang. Sakitnya proses terbayar oleh rasa puas dan hangat saat melihat kembali ke belakang. Betul kata orang-orang, di ujung lorong yang gelap, selalu ada setitik cahaya yang menanti.

Is Relationship Worth It?

Dari dulu, tiap kali memikirkan relationship gw seperti ditarik dari dua arah. Di satu sisi gw menginginkannya (well, who the hell not? Most of us do), sementara di sisi lain gw khawatir (mendekati takut) akan hal-hal yang berpotensi menyebabkan masalah karenanya. Gw tumbuh di lingkungan yang baik di depan mata, kiri dan kanan memuja-muji hubungan tradisional. That is, relationship with very genderized role, misogynistic, and sexist.

Entah karena gw tomboy, pemalas, dan egois atau karena gw memang dari dulu merasa ada sesuatu yang salah dalam relasi seperti itu, gw selalu bergidik tiap membayangkan kemungkinan gw memiliki pasangan. Contohnya, kenapa setelah menikah perempuan yang bertanggungjawab penuh terhadap urusan rumah tangga, sementara lelaki ongkang-ongkang kaki saja? Kenapa semua-mua yang berkaitan dengan rumah dan keturunan menjadi salah perempuan? Kalau memang sedemikian, kenapa lelaki merasa terhina bila dianggap hanya sebagai donor sperma? I’ve been thinking about that since middle school, if not earlier).

Like I said, I was in the middle of intersection, where I am attracted (wanting even) to have relationship (perhaps due to attachment trauma and twisted concept of salvation through relationship) and worrying too much about it. Meanwhile, some people keep saying that we should take leap of faith, that the right person will come, and you’d know if that person is the right person, etc. However, I’ve been living long enough to say that sometimes that’s true, but most of the time not.

Ya, betul, beberapa orang cukup beruntung bisa memasuki sebuah hubungan dengan pikiran jernih, dan mendapatkan pasangan yang baik (perhaps, their Internal Working Model is not messed up enough to make them attracted to the messy and distructive person). Kebanyakan lain justru melompat dengan kepala terlebih dahulu dan….


“Jalani aja dulu” adalah konsep yang sangat BULLSHIT.

Gw lihat curhat-curhat perempuan di media sosial, terutama yang sudah menjadi ibu. Betapa lelahnya mereka, betapa butuhnya mereka akan waktu pribadi, betapa berharapnya mereka dibantu oleh pasangan, dan sejenisnya. That’s the result of jumping off the cliff head first. What makes you have so much faith that your soon-to-be spouse is cooperative enough in the relationship? What makes you so sure that they’re thriving to be better and stand up to you until the end?

Gw bahkan sadar kalau gw juga terjebak dengan konsep bahwa suatu hubungan yang baik itu adalah yang sekali untuk selamanya. Meskipun, apa sih baik atau buruk itu? Yang bener-bener aja. Still, though. Is it worth the emotional turmoil to have such conflict? To trust and untrust, to learn it again just to be cheated? Is it worth the journey? Apalagi kalau sudah berbelas atau puluh tahun menjalani hubungannya, apa nggak buang-buang waktu ya? Not to mention if there’s offspring. Double the trouble.

Konflik ini nggak selesai-selesai dari gw kecil. Mau dan tidak mau. Nanti kalau ada yang kira-kira cocok (yang ternyata adalah manifestasi attachment trauma. Hey, para mantan!), gw akan terjun bebas berbekal idealisme thok yang akhirnya berujung babak belur dan patah otak. Karena tadi, take the leap! Take the damn bloody leap of faith! Sure, some of those who jump have succeeded and thrived. But most? They live in despair and unsatisfy. Because of the damn jump. And was it worth it?

Apakah semua ketakutan menjadi perawan tua/bujang lapuk, tidak memiliki keturunan, tidak ada yang mengurus di masa tua, kesepian itu terbayarkan dengan hubungan yang tidak memuaskan, kelelahan mengurus rumah tangga, kemarahan dan kekecewaan yang menumpuk bertahun-tahun? Apakah itu semua layak dijadikan dasar memasuki hubungan? Apakah mencoba lalu mengakhiri ikatan itu layak mendapatkan porsi sedemikian rupa?

Pertanyaan-pertanyaan ini sering gw tanyakan pada diri sendiri, apalagi tiap gw kelaparan kasih sayang. Beneran mau? Beneran sanggup? Beneran mau mengorbankan waktu berleha-leha untuk orang lain? Beneran mau menghadapi konflik dengan orang lain?

I’m still standing at the crossroad and cannot even decide what I want. I’m still too afraid to choose one path that tempt me the most, or the path I’m reluctant enough to go to. Indecisiveness is running deep through my bone.

Terbentuk Fiksi

Sejak kuliah, gw suka baca novel, precisely novel romansa dan historical romance. Dulu nggak ngerti juga kenapa suka banget cerita-cerita seperti itu padahal di dunia nyata gw sangat ewwh sama apa-apa yang berhubungan dengan romantisme. Pokoknya kalau ke taman bacaan (bless it!) pasti pinjam novel-novel bergenre itu (meskipun kemudian memperluas jajahan ke novel-novel petualangan anak/remaja). Kemudian, setelah sepuluh tahun baca novel seperti itu, gw akhirnya eneg sendiri dan merasa malu karena bacaan gw sungguh dangkal bak selokan kering di musim kemarau, dan akhirnya gw mengganti bacaan. So, for the past few years, I’ve been reading non-fiction books more.

Beberapa bulan terakhir, dalam episode sekian post-relapse, gw nggak termotivasi melakukan apa-apa. Bahkan binge-watching seluruh serial tv kesukaan pun doesn’t spark joy anymore. Akhirnya, entah kenapa, gw mencoba membaca kembali novel-novel romance. And I was hooked once again. For the past several months, I’ve been reading like crazy, despite I am still not having any joy whatsoever. However, I got a new insight regarding those novels I’ve been reading.

Pertama, gw jadi menyadari alasan kenapa gw sangat menyukai salah satu penulis (nggak perlu disebut siapa). Kisah-kisahnya itu semua tentang trauma bonding which of course attract someone who has attachment trauma such as yours truly. Alam bawah sadar gw tertarik dengan gejolak emosi dan kepedihan dari kisah-kisah tersebut dengan ending yang diharapkan selama ini dapat terjadi di dunia nyata. Yes, happy ending maksudnya. Ditambah lagi, karakter lawan jenisnya yang juga mencerminkan Internal Working Model yang gw miliki karena attachment trauma (tentu saja ini baru bisa disadari setelah mendapat diagnosis dan terapi).

Kedua, entah gimana (ini perlu penyelidikan lebih lanjut) gw menyerap cara pandang karakter-karakter dalam novel itu. Semacam idealization mungkin? Entahlah. Gw jadi mempertanyakan cara pandang gw soal “menerima kekurangan dan kelebihan calon pasangan”, “berkorban”, atau bahkan “setia”. Karena, setelah beberapa kejadian belakangan ini, gw seperti tanah yang baru digali dan digemburkan, dibolak-balik sampai nggak tahu lagi siapa diri gw sebenarnya. I am not even sure what notion and belief that I hold on to.

Terlepas dari gw tetap senang membaca novel-novel romansa itu (Heck, I’m still attracted to the trauma bonding love stories), gw benar-benar mempertanyakan apa yang gw inginkan dan lihat dan percaya. Apakah itu benar-benar berasal dari diri dan pengalaman hidup, atau justru menyerap dari kisah fiksi hanya karena gw menganggap “harusnya kayak gini nih!”. Karena, sialnya fiksi jauh dari dunia nyata. Setidaknya, dari dunia nyata yang gw tinggali saat ini. Fiksi juga bukan siapa gw sebenarnya. Hanya karena gw tidak ingin salah, ingin proper, gw nggak bisa menyiksa diri dengan memegang cara pandang yang bukan berasal dari pemahaman gw sendiri. Bukan gw.

I guess it’s true what they say, though. You should re-read books you’ve read and see what happens. Because you grow and things that might intrigue you once, won’t have the same effect later. Plot that might make you sigh once, will make you cringe several years later. Also it might happens such as my case. Apparently I get new understanding why I love romance cheezy fictions that much. It shocked me, of course, but I guess that’s life, yes?

Now that I’ve more understanding, it’s time to look deeper on who I am, what notion and belief I hold on to, and which should I ditch and which I should keep. It’s time to examine all aspects in my life. Perhaps, it’s time to grow some more.

Ternyata Gw PA

Gambar dari sini

PA yang gw maksud bukan “Pendek Akal” tapi “Pasif-Agresif”. Dari dulu, gw kesel sama orang PA. Cuma yang gw identifikasi sebagai PA itu biasanya adalah mereka yang suka main sindir-sindiran atau yang memuji dan mengkritik di saat bersamaan. Ngerti kan betapa menyebalkannya orang semacam itu? Sejak gw mengidentifikasi itu, gw berusaha sekuat tenaga dan ingatan gw untuk tidak main sindir dan tidak memuji lalu mengkritik. Gw udah rasa lah gimana nggak enaknya dalam posisi menerima sindiran atau pujian yang diakhiri dengan kritikan.

Waktu gw berantem hebat sama ex-partner, dia bilang kalau gw itu PA juga. Woh, tertampar lah gw kan. Bagaimana mungkin gw melakukan hal yang gw benci dan gw jaga betul nggak gw lakukan? Oh, tentu saja mungkin, Chiripa! Gw jadi PA saat berhubungan dengan dia. PA yang parah yang gw sendiri sampe sekarang nggak menyangka gw melakukannya.

Beberapa waktu yang lalu, gw yang udah muak karena kebiasaan PA seorang senior, menuangkan pikiran gw dalam suatu kicauan. Kicauannya gw akhiri dengan pertanyaan, “apa gw juga PA ya?” Yang dijawab oleh caregiver gw dengan “Lah elu kan emang udah gitu.” Jeng jeng jeng!!! Lemes lah badan gw saat itu juga. Anjing, gw PA. Terus dia kasih lihat karakteristik orang PA (entah sih dia dapat dari mana itu). Eh, bok, kena semua di gw. Bangsat. Sejak malam itu gw jadi cari tahu lebih banyak tentang PA. Hadeh, kayak kurang aja beban emosi gw lah.

Setelah baca-baca tentang karakteristik Pasif-Agresif di beberapa situs, gw melakukan refleksi. Pertama, gw mengakui gw PA setelah lihat beberapa karakter yang ternyata emang gw lakukan selama ini tanpa gw sadari. Apa aja misalnya?

  • Gw nggak mengekspresikan emosi dengan lugas. Kalau kesal, gw lebih sering menjawab, “Nggak, gw nggak apa.” Padahal inginnya mukul atau teriak-teriak. Dan itu makin sering terjadi semakin gw bertambah usia.
  • Gw menghindari konflik dan akhirnya memendam emosi. Tiba-tiba meledak aja.
  • Gw menunda kerjaan yang gw nggak suka (biasanya kerjaan domestik atau kerjaan yang datang silih berganti nggak ada deadlinenya kayak ombak di laut)
  • Gw nggak memaksa tapi gw mendendam. Maksudnya gimana? Gini, misalnya gw udah ngasih pandangan/nasehat ke seseorang (berdasarkan pengetahuan yg gw punya), terus itu nggak dia lakukan karena ngeyel (bukan krn pertimbangan lain yg memang mengcounter pertimbangan gw). Bukannya mendebat terus sampai ketemu kesetimbangannya, gw biarin aja dia melakukan apa yg dia mau. Kalau kemudian gagal, gw nggak akan bantu dia bangkit. Tanggung sendiri lah.

(list di atas gw dapat dari sini. Untuk rujukan lain, bisa cek di sini)

Gambar dari sini

Gw emang nggak menyindir atau memuji-mengkritik orang, tapi gw mendendam dan memendam. Itu juga rupanya bentuk PA. Pukimak betul, kan! Dan ternyata, gw begitu juga nggak ujug-ujug. Ternyata itulah cara gw bertahan hidup dan waras. Dari kecil, gw nggak bisa mengekspresikan emosi gw. Bukan karena nggak bisa sebenarnya, tapi karena nggak diizinkan. Kalau kesal atau marah, dibilang nggak sopan. Kalau membantah, dibilang melawan dan nggak sopan. Nggak boleh merengut di hadapan orang lain. Harus bermuka manis. Alhasil, gw memendam sebagian besar emosi yang gw punya. Gw baru berani meluapkan emosi itu waktu umur gw 20-an. Baru berani teriak dan banting-banting. Dan itupun juga nggak bagus. Karena gw melakukan itu setelah memendam emosi lama. Gw nggak bisa mengungkapkan dengan baik selain dengan teriakan dan bantingan.

Gw juga pendendam karena gw nggak bisa melampiaskan emosi gw. Gw nggak bisa berantem bak buk bak buk. Karena dibiasakan begitu. Nggak dibiasakan menyelesaikan emosi saat itu juga. Cuma bisa memendam dan akhirnya jadi pendendam. Gw nggak biasa didengarkan pendapatnya di rumah. Mau didengarkan sejuta kali di lingkungan eksternal, ternyata dampak di lingkungan internal itulah yang membentuk gw. Kalau gw bilang sesuatu, dibilang sok tahu. Padahal itu hasil gw baca buku. Terus gw dibilang liberal, dibilang dipengaruhi orang kafir, nggak dengar ceramah, nggak dekat Tuhan, dan seterusnya. Ya sudah, akhirnya gw memutuskan nggak mau bilang apa-apa lagi. Terserah aja sana. Pernah sangking kesalnya, gw sampe bilang, “Kalian kan nggak mau dengar apa kata saya, nanti kalau kalian menggelepar mati, nggak akan saya tolong. Mati aja sana!” Sangking kesalnya gw nggak didengar.

Itu berdampak ketika gw kerja. Di dua tempat kerja terakhir, gw beberapa kali nggak didengar. Gw berpendapat dengan alasan dan pertimbangan jelas. Yang sono ngeyel kan. Terus gw ketiban sial karena yang sono ngeyel. Karena itu gw akhirnya gw sebodo amat dan kerja semau gw (di tempat lama gitu, di tempat sekarang, syukurnya semua pendapat atau usul dibahas sampai ketemu titik yang disepakati bersama). Bukan gw mau pendapat gw didengar mentah-mentah, nggak sama sekali. Tapi, kasih alasan yang masuk akal untuk bilang bahwa gw keliru. Gw akan dengar. Gw nggak malu kok ngaku kalau gw salah (selama ini gw berusaha keras begitu).

Sekarang kalau di lingkungan kerja, gw nggak terlalu PA terutama dengan sejawat. Dalam arti, untuk hal yang gw anggap penting, gw akan tetap menyampaikan pikiran gw dan mau berdebat dan berdiskusi tentang itu. Tapi di luar itu, gw memilih nggak peduli. Terserah aja mau apa, selama nggak ada urusan sama gw. Cuma kalau di keluarga, ini masih susah. Banyak emosi yang harus gw pendam, dan kalau udah nggak kuat lagi gw akhirnya teriak-teriak. Jarang banget emang, tapi mengejutkan. Celakanya, habis gw begitu, gw sendiri yang nyesel. Tapi kalau nggak teriak, gw pusing sendiri.

Karena gw menyuarakan kekhawatiran gw akan PA ini, akhirnya gw tau kalau gw itu PA dalam bentuk yang lain (inilah untungnya punya sahabat/teman dekat/caregiver). Gw akhirnya tau PA itu banyak macamnya, dan nggak semua orang punya semuanya. Ada yang sebagian aja. Manifestasinya banyak. Gw juga jadi berefleksi kembali, kenapa gw begini. Ya sebel sih tetep sama diri sendiri. Rusak kok nggak habis-habis gitu ya. Udah depresi, trauma kompleks, masa depan suram, eh pakai PA segala. Setidaknya gw tau lah apa yang terjadi sama diri sendiri dan akan berusaha memperbaiki diri. Dan gw harap, gw jadi lebih timbang rasa sama orang yang punya karakteristik PA. Dalam arti, meskipun gw pasti akan tetap kesal, gw juga akan tau gimana cara menghadapinya dan punya kesadaran kalau mereka jadi PA itu juga nggak menyegajakan diri. Ada sejarahnya kenapa mereka jadi segitu pasif-agresifnya.

Tangled

This has been bugging me for weeks, I guess. It started when I got a message notifying me about ex’s accident (apparently I was still on his emergency list). I was torn apart in between wanting to call him to make sure he’s okay and ignore him. In the end, my decision was sending him a message, asked him to get rest and take care of himself. In which he replied with “ehe”. Something that annoys me a lot.

That particular one-time interaction already messed up my mind. I stalked his tweets for several time, until I realized the futility of what I was doing. What did I expect? A clue (or several) that he’s still into me? Ridiculous. All I get was he was already moving on (which has already established several months back). Still, the feeling I have for him, it can’t fade away like I want to, let alone go away. Somewhere in my mind, I keep feeling that I was betrayed, not fought for, not cared for. Somewhere in my mind, I keep wondering whether there was a way for us to be together, despite of the fact that there is no way at all.

The thing is, I think I lost everything the moment I lost him. I even lost the joy of interacting online. I can’t even start any conversation anymore with anyone these days. I feel dull and boring. I feel like I don’t have friends anymore. Which is not a hundred percent true, because I do have some good friends I keep in touch with. I read book again, I even start drawing and painting. I am not idle whatsoever. But, I feel empty. I feel lost. I feel there’s no bright future anymore.

I am not sure why I made myself revolve around him. Walking away from him made me lost the nucleus of my orbit. It feels that way. I simulate in my mind, what if I contact him again, as part of my selfishness to re-orbit. Alas, even in the simulation, there’s nothing good come out of it. I will go back into the phase of uncertainty and insecure, and sure as hell I will fall back into depression.

But I need to find the core back. I know I need to find myself. The core, the nucleus should be me. The emptiness that I feel is because I lost myself and haven’t found her back. I lost the spark of life I used to have. I lost the spark of hope and good in others. I lost the naivete that hold me back on the edge of the darkness cliff. Everything is dull now. At one point, I enjoy the nothingness. I enjoy the mundane. At the other side, I crave for some life sparks. I crave for the wittiness once I had.

Oh, one more thing. I lost the ability to trust people in general and people at certain environment. A week ago I had to visit regional office of his company and it triggered the trauma (or bad memories). I felt disgusted toward all the people working there. In my mind, they are all cheaters or cheaters in the making, that they are unfaithful. My body went rigid the whole time I had to wait there, while my brain said “here are a group of cheater”. I know it wasn’t fair, I can’t judge people like that. Despite of his doing, not all people like him or will fall to his grade. But then again, how can I trust people? When all they talk is about “loving people they can’t have” or “cheat behind their spouse”? It’s all fake. It’s all disgusting.

The thing is, I think I blame myself, too. It was me who encourage him to do those things. It was me who encourage him to have some adventures. Perhaps I am disgusted by myself. I keep thinking that the problem was due to no recognition of my presence by his partners. It was unbalanced. That’s why I keep feeling betrayed. They have access to him but they don’t know our relationship. And he didn’t affirm himself.

I am still surprised how damaged I am because of this irrational relationship. How low I could go to earn some validation and acceptance, to earn the illusion of being loved and accepted the way I was, of having hope to be rescued. I was (perhaps still am) always a strong person in every relationships I had. I knew what I wanted and I set my boundaries. When that boundaries crossed, I pulled back. Always. Why did I let myself so vulnerable and open to him? Why I kept giving him chance no matter how crappy he treated me? Why I kept forgiving him? Why can’t I hate him even now?

I lost everything. The ability to dream, to hope, to trust, and to find meaning. I lost myself.

Belakangan Ini

Tadinya mau menuangkan pikiran tentang buku yang sedang dibaca, tapi belum koheren apa yang ingin disampaikan. Jadi, gw akan menuangkan apa yang sudah terjadi selama ini aja. Selama beberapa bulan terakhir, gw nggak termotivasi sama sekali bekerja atau melakukan apa pun. Gw hanya menggeletak di tempat tidur dan nonton serial tv seharian, kecuali saat gw harus melakukan tugas gw di tempat kerja. Baru pergi. Baru bangun dan mengerjakan. Mungkin juga dipengaruhi posisi tubuh ya. Gw jarang banget menggunakan meja belajar sejak relapse depresi. Itu membuat gw cepet capek kalau harus duduk bersila dan ngetik di komputer.

Lay in bed all day

Gw baca-baca beberapa post tentang manajemen stress dan depresi, dan manajemen trauma. Ada satu hal penting yang harus dilakukan. Punya rutinitas. Damn, sementara gw kan paling amburadul dan abstrak sekali hidupnya. Nggak ada hal rutin yang gw lakukan. Kalaupun ada, biasanya hanya bertahan dua minggu (paling lama). Padahal rutinitas yang diminta untuk dibangun itu nggak susah-susah amat sih. Meditasi rutin, menulis jurnal afirmasi (future-self journaling), dan olahraga (yoga atau aerobik). Tapi, ya karena gw dalam mode hypoarousal, yang baru gw sadar kemudian, gw nggak mau beranjak sedikit pun dari posisi menggeletak.

Sampai akhirnya dua minggu lalu, gw sadar kalau ini semua nggak ada dampak baiknya sama sekali ke diri sendiri. I am behind of everything I should’ve done. I can’t do my tasks properly, I don’t have goals, I don’t have anything to look forward to. Pelan-pelan gw berusaha mengubah kebiasaan. Meditasi, meski nggak rutin, tapi sebisa mungkin gw lakukan. Yoga yang belum mulai lagi, padahal nggak lama-lama amat durasinya. Yang paling susah itu menulis jurnal afirmasi. Karena buat gw itu absurdnya luar biasa. Nggak terbiasa banget untuk menulis afirmasi ke diri sendiri (tapi kalau soal keras sama diri sendiri, paling jago!). Tiga tulisan afirmasi yang berhasil gw tulis, cuma berisi tiga atau empat baris. Bingung-bingung gitu sih, karena agak skeptis juga sama afirmasi ini. Itulah ya, karena nggak pernah terbiasa untuk berkata baik dan menyemangati diri sendiri, jadi merasa aneh untuk punya kepercayaan bahwa diri ini cukup, diri ini berlimpah akan kasih sayang, dan siap menerima berkat dari semesta.

Gw belum menyerah sih soal ini. Masih berusaha mencoba, meski gagap-gagap. Gw akan fokus di meditasi dan yoga dulu lah ya. Sama berusaha mengatur jadwal tidur yang baik. Masa tidur selalu jam 2 pagi dan bangun jam 10 pagi. Apa-apaan banget. Yang menarik adalah pikiran untuk mengakhiri hidup nggak sekencang dulu lagi. Begitu juga rasa depresinya. Mungkin karena lagi hypoarousal, semuanya numb jadi nggak bisa merasa apa-apa. Ini fase yang enak sebenarnya, karena nggak terlalu banyak pikiran dan hasrat, nggak ada cemas dan panik, datar. Cuma ya selaras juga, nggak punya keinginan apa-apa.

Sesekali masih tertrigger traumanya, terutama abandoned feeling. Masih keingetan ex-partner kadang-kadang. Nggak tau mau ke mana. Dan meskipun pikiran mengakhiri hidup itu nggak sekencang dulu, gw tetap berpikir akan mengakhiri hidup seandainya kondisi nggak memungkinkan untuk berjuang lagi (sejak kapan sih gw beneran mau berjuang?).

Well, nggak tau lah ke depan gimana. Tapi semoga meditasi, yoga, membaca, dan menulis bisa gw lakukan dengan lebih rutin. Sama mencoba fokus nyari sekolah lagi (yang nggak pernah kesampaian sejak dulu kala). Well, wish me luck. Mudah-mudahan tahun ini ada perbaikan… nggak terlalu lama burn out dan berada dalam masa hypoarousal.

Last Goodbye

Based on a friend’s advise, I contacted P and asked him to block all my accounts. It will help me not to stalk him again. He replied and agreed to fulfill the request. It hurts again, just like each time I stalk his twitter account. It hurts just like when I broke up with him. I mean, after all this time, the pain doesn’t really fade over time.

Rasanya seperti lukanya disayat lagi dan berdarah lagi. Kalau kata Nana, aku masih mencari validasi ke P, dan masih ada ekspektasi ke dia (that “saviour” thing who will take me away from this town and family). Sementara apa yang dia lakukan, persis sama dengan apa yang orangtuaku lakukan. He hit the same buttons as they did. He put me in the same conditions as my parents did.

I should’ve accept it and let it go. I should forgive him and let him go. I have to be objective. Despite the despair I felt, trauma that was triggered, depression relapsed, there were good times spent with him. At some point, he gave me hope, a friend to talk to, a warm feeling of being loved that fill the void in my heart. It’s also because of meeting him, my depression relapsed and it made seek help. It made me realized the underlying cause of all my problems. It made me properly diagnosed. He’s in my life for a reason. He made me realize the attachment trauma I’m having. He made me realize that all relationships I’ve had is just trauma reliving or an attempt to get my parents’ validation and approval. He made me realize that I can’t keep repeating the experience over and over just to relieve the trauma and getting validation.

Only with him I’ve said too many goodbyes. Even now, after 7 months of separation, I still can’t get over easily. Perhaps because I am not strong enough to rely on myself, so I am still putting hope in him to save me. So, when I let him go, it’s as if I’m closing all doors to be saved. And that’s not healthy, to be codependent like that. It’s not healthy both for me and for any of my partner, especially for P because he already has his own issues that haven’t been dealt with.

The journey to heal is in empowering myself. There’s no one that can fill the void inside me, the lack of love and care and understanding I’ve been looked for all my life. There’s no one that can save me if I’m not ready to be saved, to be helped. There’s no one that can correct the attachment problem I have. It’s all up to me. To forgive. To understand. To be compassionate. To love.

I’m still a little bit confused about forgiving things. I don’t really understand the process and what result should I expect to see after doing so. My therapist said that I should forgive myself over mistakes I’ve done, because they are not fully taken consciously and by awareness. Mostly I reacted to someone based on the internal wiring I’ve adapted whole of my life. I should forgive myself over the fear I always have, for belittling myself and all efforts I’ve taken, for not acknowledging my success both big and small. I should forgive myself for not being able to upgrade myself. I should forgive myself for not being able to get out. I should forgive myself for making decisions out of fear and anxiety. They brought consequences which are both good and bad. They shaped me into what I am now, but they don’t define who I am. I should forgive myself for things I haven’t been able to do.

I should forgive what my parents have done to me, because they did it out of knowledge and they also have untreated traumas they’ve never known themselves (for this part, I have forgiven them, but insanely, I still seek validation and love from them… unconditional one which up until now they can’t give to me). I should forgive them for putting all this scars and shackles around me. I should forgive them who makes me have to work this hard to get out from the zone.

I should forgive P for inflicting excruciating pain in me. I should forgive him because he was also operating his life based on pain that was caused by unaddressed complex trauma he had. I should forgive him because he doesn’t know how to make a relationship work due to his pain. I should forgive his constant denial and negativity. I should forgive his inability to keep wanting his exes. He’s operating based on pain and trauma. We might be compatible in some areas, but it’s inevitable that the relationship will never work. We were both operated by trauma and pain. We didn’t realized it then, and we didn’t work it together when we finally realized it. We were meant to separate. I should forgive him for shattering the fortress I built around me.

This entry is so mixed up. This is the last goodbye. I am letting him go. I should accept that he is entitled to be with someone else now, someone who’s more compatible to share anything with him, someone who understands him more, someone who can encourage and support him to continue therapy and be honest with himself. I should accept that we are not meant to be. And I wish him mental and trauma recovery. I wish him peace. Goodbye, P.